Loading...

Tantangan Penilai Menyiapkan AI Dalam Mendukung Proses Bisnis Penilaian

Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) DPD KALTIMRA Menggelar kegiatan Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) dengan tema "Tantangan Penilai Menyiapkan Artificial Intelligence (AI) dalam Mendukung Proses Bisnis Penilaian di Masa Depan.". Acara ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidangnya, yaitu Ir. Hamid Yusuf, MM., MAPPI (Cert.), FRICS, selaku Ketua Komite Penyusun Standar Penilai Indonesia (SPI), dan Fauzan Pavian, Koordinator Pengembangan Database Properti Pusat Pengembangan Teknologi Informasi MAPPI.

AI Sebagai Tools Pendukung Profesi Penilai
Dalam paparannya, Ir. Hamid Yusuf menekankan bahwa perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia profesi penilai di masa mendatang. Namun demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan peran profesional penilai, melainkan menjadi alat bantu (tools) untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan transparansi dalam proses penilaian.

"Hasil penilaian tetap menjadi tanggung jawab profesional penilai. AI hanyalah asisten yang membantu kita dalam mengolah data, menganalisis tren pasar, atau mempercepat proses pengumpulan informasi," jelas Hamid Yusuf. Ia juga menyoroti pentingnya integritas dan profesionalisme dalam menggunakan teknologi, agar hasil penilaian tetap sesuai dengan prinsip dan standar yang diatur dalam Standar Penilaian Indonesia (SPI).

Integrasi Database dan Pengembangan Teknologi Penilaian
Sementara itu, Fauzan Pavian menjelaskan peran penting database properti dan teknologi informasi dalam mendukung penerapan AI di bidang penilaian. Menurutnya, AI dapat bekerja optimal jika didukung oleh data yang valid, terstruktur, dan berkelanjutan.
Pusat Pengembangan teknologi Informasi MAPPI tengah mengembangkan sistem dan infrastruktur yang memungkinkan integrasi data properti secara nasional, yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk mempercepat proses analisis dan pembandingan dalam penilaian.

"AI bisa menjadi asisten digital bagi penilai. Misalnya, dalam melakukan market comparison, AI dapat mengolah ribuan data transaksi dengan cepat dan menampilkan hasil yang relevan. Tapi tetap, keputusan akhir ada pada penilai manusia" jelas Fauzan.

Tantangan dan Kesiapan Penilai
Kedua narasumber sepakat bahwa tantangan terbesar bagi para penilai bukanlah pada teknologi itu sendiri, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam memahami, memanfaatkan, dan mengendalikan teknologi tersebut.
Penilai dituntut untuk tidak hanya memahami prinsip penilaian, tetapi juga memiliki literasi digital dan kemampuan analisis berbasis data agar mampu bekerja berdampingan dengan teknologi.

Penerapan AI diharapkan dapat membantu mempercepat proses kerja, meningkatkan akurasi, serta memperluas cakupan analisis penilaian, terutama di era digital yang menuntut efisiensi dan ketepatan tinggi.

Melalui kegiatan PPL ini, MAPPI kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme para penilai di Indonesia. AI bukan ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas layanan penilaian yang lebih cepat, akurat, dan transparan - tanpa menghilangkan nilai utama profesi: independensi, integritas, dan tanggung jawab profesional.

Top